Sarat Prestasi: Timor Leste Adopsi Teknologi Pertanian dari BP3K Cikeusal dan WaringinKurung-Serang

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

BP3K Cikeusal dan WaringinKurung, Kabupaten Serang pada hari sabtu, 27 April 2013 menerima kunjungan Menteri Pertanian Timor Leste Mariano Sabino Lopes. Kunjungan rombongan dari Timor Leste ini mendapat sambutan yang sangat luar biasa dari keluarga Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Serang dengan mempersiapkan lokasi dan materi yang dapat mewakili keberhasilan pertanian di Kabupaten Serang sehingga layak diadopsi oleh negara Timor Leste.
Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Serang, Sri Budi Prihasto yang mendampingi kunjungan tersebut merasa senang dan senantiasa siap membantu keinginan Timor Leste untuk mengadopsi teknologi pertanian di lingkungan wilayah kerja beliau.
Rombongan Mentan Mariano Assanami Sabino sangat mengapresiasi prestasi yang ditampilkan oleh BP3K Cikeusal dan WaringinKurung, karenanya Timor Leste sangat antusias untuk lebih banyak belajar pertanian dari Kabupaten Serang khususnya dari keberhasilan pembangunan pertanian di Indonesia yang  cukup baik.
Kunjungan Mentan Timor Leste ke Kabupaten Serang menjadi bukti keberhasilan penyuluh dalam membantu petani Cikeusal dan WaringinKurung, apalagi, selama ini sudah banyak prestasi yang ditorehkan para penyuluh, sehingga Cikeusal dan WaringinKurung tampil dan menjadi sentra tanaman hortikultura.
Antusiasme Rombongan Timor Leste, mendapat sambutan positip dari Deptan, Pemerintah Daerah Provinsi Banten maupun Kabupaten Serang, khususnya Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Serang yang menjadi kunci bagi keberhasilan seluruh BP3K di Kecamatan2 di seluruh Kabupaten Serang.
Semoga kunjungan dan apresiasi dari negara lain bagi semua pihak yang telah mendukung keberhasilan bidang pertanian di Kabupaten Serang dapat menjadikan motivasi yang lebih tinggi bagi seluruh aparat pertanian khususnya di Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Kabupaten Serang, untuk bekerja lebih giat dan memunculkan banyak prestasi-prestasi bagi pengelolanya untuk kemajuan pertanian di Kabupaten Serang dan bagi pembangunan pertanian di Indonesia.

Mutasi dan Rotasi : Menuju dan Menjadi yang Terbaik

bersama bapak KabanPengertian mutasi di lingkungan Pemerintah adalah pemindahan PNS dari atau ke instansi lain di lingkungan Pemerintah.

Mutasi atau transfer adalah perpindahan pekerjaan seseorang dalam suatu organisasi yang memiliki tingkat level yang sama dari posisi perkerjaan sebelum mengalami pindah kerja. Kompensasi gaji, tugas dan tanggung jawab yang baru umumnya adalah sama seperti sedia kala. Mutasi atau rotasi kerja dilakukan untuk menghindari kejenuhan karyawan atau pegawai pada rutinitas pekerjaan yang terkadang membosankan serta memiliki fungsi tujuan lain supaya seseorang dapat menguasai dan mendalami pekerjaan lain di bidang yang berbeda pada suatu perusahaan. Transfer terkadang dapat dijadikan sebagai tahapan awal atau batu loncatan untuk mendapatkan promosi di waktu mendatang. Hakekatnya mutasi adalah bentuk perhatian pimpinan terhadap bawahan. Disamping perhatian internal, upaya peningkatan pelayanan kepada masyarakat adalah bagian terpenting dalam seluruh pergerakan yang terjadi dalam lingkup kerja pemerintahan.

Tujuan mutasi adalah sebagai berikut :
1.Untuk meningkatkan poduktivitas PNS
2.Untuk menciptakan keseimbangan antar tenaga kerja dengan komposisi pekerjaan atau jabatan.
3.Untuk memperluas atau menambah pengetahuan karyawan/PNS
4.Untuk menghilangkan rasa bosan/jenuh tehadap pekerjaannya.
5.Untuk memberikan perangsang agar karyawan mau berupaya meningkatkan karir yang lebih tinggi.
6.Untuk alat pendorong agar spirit kerja meningkat melalui pesaingan terbuka.
7.Untuk menyesuaikan pekerjaan dengan kondisi fisik karyawan

Sebab-sebab pelaksanaan mutasi digolongkan sebagai berikut :

a. Permintaan sendiri, Mutasi atas permintaan sendiri adalah mutasi yang dilakukan atas keinginan sendiri dari karyawan/pegawai  yang bersangkutan dan dengan mendapat persetujuan pimpinan organisasi. Mutasi pemintaan sendiri pada umumnya hanya pemindahan jabatan yang peringkatnya sama, baik antarbagian maupun pindah ke tempat lain.

b. Alih tugas produktif (ATP), Alih tugas produktif adalah mutasi karena kehendak pimpinanan perusahaan untuk meningkatkan produksi dengan menempatkan karyawan/pegawaiIMG_2749IMG_2770purna acara mutasi-rotasi yang bersangkutan ke jabatan atau pekerjannya yang sesuai dengan kecakapannya.

Foto-foto adalah purna acara mutasi-rotasi di lingkungan BP2KP Kabupaten Serang ditandai dengan foto bersama.

Sumber : www.anneahira.com/mutasi dan nenglyla.wordpress.com

Pembelajaran dan Pengembangan Tanaman KembangKol di Daerah Pesisir Anyer

Oleh : Agung Lili Saputra *)

FMA Akar Raya Desa Bandulu

Sejak awal didirikannya FMA Akar Raya, para pengelola dan peserta pembelajaran

sudah berkomitmen untuk mengambangkan komoditi sayuran Kembang Kol. Bertempat di

Kampung Cirahab Desa Bandulu Kecamatan Anyer Kabupaten Serang Provinsi Banten para

pengelola dan peserta mulai merintis kegiatan pembelajaran budidaya tanaman Kembang

Kol. Peserta pembelajaran terdiri dari para petani yang mau mengikuti kegiatan pembelajaran

dan mereka adalah anggota-anggota kelompoktani yang ada di sekitar FMA Akar Raya

Fasilitasi oleh Pemkab Serang melalui Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian dan

Ketahanan Pangan berupa program pembelajaran melalui kegiatan P3TIP – FMA APBD

telah mendorong semangat FMA untuk mengembangkan tanaman Kembang Kol sekaligus

wahana pembelajaran bagi anggotanya. Hal ini tentu saja tidak lain untuk memberdayakan

petani-petani di pedesaan khususnya wilayah anyer agar meningkat pengetahuan dan

kesejahteraanya. Untuk mewujudkan hasil tersebut tentu tidak seperti membalikan telapak

tangan ada proses yang dilalui oleh FMA Akar Raya. Beberapa point dari proses tersebut

daintaranya yaitu : pembentukan pengurus atau pengelola FMA, perencanaan kegiatan

pembelajaran ( penentuan waktu dan tempat, sarana prasarana, narasumber, metode

pembelajaran, materi, narasumber, hingga biaya ), pelaksanaan kegiatan, dan rencana tindak

lanjut. Semua proses tersebut dilakukan atas dasar musyawarah dan mufakat serta partisipasi

pengurus, Gapoktan, dan peserta pembelajaran.

Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dimulai dari tanggal 12 Februari sampai dengan

9 April 2013. Waktu yang cukup panjang tersebut diisi kegiatan penyuluhan oleh para

narasumber baik yang berasal dari Dinas terkait seperti Balai Penyuluhan, BP2KP, Dinas

Pertanian, BPTP maupun dari petani maju. Selain pembelajaran melalui terori juga

dilaksanakan praktek lapangan mulai dari persiapan lahan hingga panen. Walaupun sudah

menerapkan paket teknologi yang baik, masih saja terdapat kendala selama pelaksanaan.

Menurut penuturan salah seorang Pengelola FMA yaitu saudara Husna kendala selama

pelaksanaan kegiatan pembelajaran tanaman kembangkol antara lain kondisi cuaca yang tidak

menentu dan serangan hama penyakit. Hal ini juga sama dirasakan oleh peserta pembelajaran

yang berjumlah 25 orang. Namun seiring perjalanan waktu akhirnya mereka menemukan

solusi untuk menghadapi kondisi tersebut dan bisa mengatasinya.

Dari pelaksanaan kegiatan ini diperoleh hasil yang dirasakan positif baik oleh pengelola

maupun peserta. Hasil panen kembang kol dari proses pembelajara FMA Akar Raya

sebanyak 1.100 Kg dari luas lahan hampir 3.000 M2. Walaupun jumlah yang diperoleh belum

maksimal para peserta memiliki pengetahuan dan pengalaman baru dari kegiatan ini. Artinya

ada perubahan prilaku sebelum dan sesudah ada kegiatan pembelajaran di FMA Akar Raya

mengenai budidaya tanaman Kembang Kol. Hal ini terlihat dari antusias peserta untuk tetap

melanjutkan usaha budidaya tanaman Kembang Kol di lokasi lahan masing-masing. Oleh

karena itu FMA Akar Raya berencana untuk mengembangkan tanaman ini sebagai rencana

tidak lanjut. Rencana tahap kedua akan dikembangkan tanaman Kembang Kol di lahan seluas

3.000 M2, Pakcoy di lahan seluas 2.000 M2, dan mentimun di lahan seluas 2.500 M2. Semua

ini dilakukan tidak lain sebagi upaya pengembangan FMA Akar Raya dalam memberdayakan

petani dan masyarakat , khususnya di Desa Bandulu. Sebagai daerah pariwisata dan pesisir

tentu saja ini menjadi tantangan sekaligus peluang.

FMA Akar Raya merupakan contoh kecil kegiatan pembelajaran yang dikelola oleh,

dari dan untuk petani yang ada di Kabupaten Serang Khususnya di Kecamatan Anyer.

Hendaknya semangat dan kemandirian mereka perlu di contoh oleh kelompoktani dalam

menjalankan fungsinya sebagai kelas belajar. “ Jika kita memiliki kemauan yang kuat dari

dalam hati maka seluruh alam semesta akan bahu membahu mewujudkanya _ Soekarno

(Presiden RI Pertama) “

*) Penulis adalah seorang Penyuluh Pertanian Pelaksana pada Badan Pelaksana Penyuluhan dan
Ketahanan Pangan Kabupaten Serangkembang kol2kembang kol

Pengertian2 dalam PERMENTAN No.35/Permentan/OT.140/7/2009

Permentan ini tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian dan Angka Kreditnya.

Petunjuk teknis ini dimaksudkan sebagai acuan bagi Penyuluh Pertanian,

pengelola kepegawaian, tim penilai, pejabat penetap angka kredit dan para

pemangku kepentingan, dalam melaksanakan semua ketentuan yang

berhubungan dengan administrasi kepegawaian dan kegiatan teknis di bidang

penyuluhan pertanian, sehingga pengembangan karier Penyuluh Pertanian

dapat dilaksanakan dengan baik.

Bagi Penyuluh Pertanian, khususnya di Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Serang perlu sekali memahami bab-bab dalam Petunjuk Teknis ini.

Dalam bab tentang Pengertian-pengertian dijabarkan dengan jelas definisi per kata yang dipakai dalam petunjuk teknis sebagai berikut :

PENGERTIAN-PENGERTIAN

Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan :

1. Penyuluh Pertanian adalah jabatan fungsional yang mempunyai ruang lingkup,

tugas, tanggung jawab, dan wewenang untuk melakukan kegiatan penyuluhan

pertanian yang diduduki oleh Pegawai Negeri Sipil dengan hak dan kewajiban yang

diberikan secara penuh oleh pejabat yang berwenang.

2. Penyuluhan pertanian adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta

pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan

dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumber

daya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha,

pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam

pelestarian fungsi lingkungan hidup.

3. Penyuluh Pertanian Terampil adalah Penyuluh Pertanian yang mempunyai

kualifikasi teknis atau penunjang profesional yang pelaksanaan tugas dan

fungsinya mensyaratkan penguasaan pengetahuan teknis di bidang penyuluhan

pertanian.

4. Penyuluh Pertanian Ahli adalah Penyuluh Pertanian yang mempunyai kualifikasi

profesional yang pelaksanaan tugas dan fungsinya mensyaratkan penguasaan

pengetahuan, metodologi, dan teknis analisis di bidang penyuluhan pertanian.

5. DUPAK adalah Daftar Usulan Penetapan Angka Kredit yang harus diisi oleh

pejabat fungsional Penyuluh Pertanian dan diketahui oleh pejabat pengusul.

6. Angka kredit adalah satuan nilai dari tiap butir kegiatan dan atau akumulasi nilai

butir-butir kegiatan yang harus dicapai oleh pejabat fungsional Penyuluh

Pertanian dalam rangka pembinaan karier yang bersangkutan.

7. Pejabat Pengusul adalah Pejabat yang berwenang mengusulkan penetapan

angka kredit Penyuluh Pertanian.

8. Pejabat Penetap Angka Kredit adalah Pejabat yang berwenang menetapkan

angka kredit Penyuluh Pertanian.

9. Tim Penilai Pusat adalah Tim yang dibentuk oleh Sekretaris Jenderal

Departemen Pertanian untuk membantu Sekretaris Jenderal Departemen

Pertanian dan pejabat Eselon II yang membidangi penyuluhan dalam

menetapkan PAK bagi Penyuluh Pertanian Pusat/Daerah pada jenjang jabatan

tertentu.

10. Tim Penilai Provinsi adalah Tim yang dibentuk oleh Sekretaris Daerah Provinsi

untuk membantu Sekretaris Daerah Provinsi dalam menetapkan PAK bagi

Penyuluh Pertanian Daerah Provinsi.

11. Tim Penilai Kabupaten/Kota adalah Tim yang dibentuk oleh Sekretaris Daerah

Kabupaten/Kota untuk membantu Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota dalam

menetapkan PAK bagi Penyuluh Pertanian Daerah Kabupaten/Kota.

3

12. Sekretariat Tim Penilai adalah Sekretariat yang dibentuk untuk membantu Tim

Penilai Pusat, Tim Penilai Provinsi dan Tim Penilai Kabupaten/Kota sesuai

tingkatannya dalam melakukan penilaian angka kredit Penyuluh Pertanian.

13. Pendidikan dan Pelatihan Kedinasan di bidang penyuluhan pertanian adalah

pendidikan dan pelatihan fungsional yang diberikan kepada penyuluh pertanian

guna pelaksanaan tugas Penyuluh Pertanian.

14. Pendidikan formal di bidang non pertanian, angka kreditnya diperhitungkan

sebagai unsur penunjang penyuluhan pertanian

15. Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan (STTPP) di bidang pertanian

adalah surat tamat pendidikan dan pelatihan yang diperoleh Penyuluh Pertanian

setelah lulus mengikuti pendidikan dan pelatihan fungsional.

16. Programa Penyuluhan Pertanian adalah rencana tertulis yang disusun secara

sistematis untuk memberikan arah dan pedoman pelaksanaan penyuluhan serta

sebagai alat pengendali pencapaian tujuan penyuluhan pertanian.

17. Rencana Kerja Penyuluh Pertanian adalah jadwal kegiatan yang disusun oleh

Penyuluh Pertanian Terampil dan Penyuluh Pertanian Ahli berdasarkan

programa penyuluhan pertanian setempat, yang mencantumkan hal-hal yang

perlu disiapkan dalam berinteraksi dengan pelaku utama dan pelaku usaha

pertanian.

18. Materi Penyuluhan Pertanian adalah bahan dan alat bantu penyuluhan yang

disusun oleh Penyuluh Pertanian dalam rangka pelaksanaan penyuluhan

pertanian.

19. Kartu Kilat (Flash Cards) adalah sejumlah kartu lepasan yang berisikan gambar,

foto atau ilustrasi yang disajikan satu per satu menurut urutannya.

20. Bahan Tayangan (transparansi dan powerpoint) adalah materi penyuluhan

berupa lembaran yang digunakan pada OHP/LCD Projector, berisi tentang

informasi di bidang pertanian yang dibuat secara manual atau menggunakan

komputer.

21. Seri Photo adalah materi penyuluhan pertanian berupa rangkaian photo-photo

yang disusun secara berurutan sehingga menjadi suatu cerita/proses kegiatan di

bidang pertanian.

22. Folder adalah lembaran kertas lepas yang dilipat dua/tiga lipatan yang berisi

pesan penyuluhan pertanian dalam bentuk tulisan dan gambar (foto/ilustrasi)

23. Leaflet/Liptan lembaran kertas lepas yang tidak dilipat dua/tiga lipatan yang

berisi pesan penyuluhan pertanian dalam bentuk tulisan dan gambar

(foto/ilustrasi).

24. Selebaran adalah sehelai kertas yang bisa dilipat, bergambar dengan kata-kata

atau tidak bergambar yang mengandung pesan-pesan pembangunan pertanian.

25. Poster adalah lembaran kertas yang berisikan pesan penyuluhan pertanian

dalam bentuk gambar dan tulisan sebagai salah satu media yang populer dan

berguna untuk komunikasi visual, dengan sedikit kata yang jelas artinya, tepat

pesannya, dan dapat dengan mudah dibaca dan dilihat.

26. Flip Chart/Peta Singkap adalah lembaran-lembaran kertas yang berisi gambar

dan tulisan yang disusun secara berurutan, bagian atasnya disatukan dengan

spiral sehingga mudah disingkap.

4

27. Brosur/Bukleet adalah buku dengan jumlah 8 – 20 halaman yang berisi uraian

tentang suatu topik gagasan atau konsep pembangunan pertanian, yang

disajikan dalam bentuk tulisan yang dilengkapi gambar, foto, tabel dan ilustrasi

lainnya.

28. Naskah Radio/TV/Seni Budaya/Pertunjukan adalah materi penyuluhan pertanian

berupa suatu tulisan/naskah/skenario yang akan dibacakan/diperagakan/

tayangkan dalam siaran radio/TV/Seni Budaya/pertunjukan.

29. Sound Slide adalah seri slide (film positif), merupakan kumpulan slide materi

penyuluhan pertanian yang berurutan menjadi suatu cerita, kegiatan atau

kejadian, disertai dengan komentar (suara) dan atau tulisan/teks dalam

rekaman, yang pembuataannya diprogram dengan komputer, dan diputar

melalui beberapa

slide projector.

30. Film/Video/VCD/DVD adalah rangkaian cerita yang berisi materi penyuluhan

pertanian dibuat dalam pita film dan diputar dengan proyektor film, atau pada

pita video catridge yang diputar pada video player/VCD/DVD player.

31. Pameran adalah kegiatan untuk memperlihatkan atau mempertunjukkan model,

contoh, barang, peta, grafik, gambar, poster, benda hidup dan sebagainya

secara sistematis pada suatu tempat tertentu, dalam rangka promosi.

32.

Website adalah kumpulan dari halaman-halaman situs yang biasanya terangkum

dalam

domain atau sub domain yang terdapat dalam world wide web (www) di

internet

.

33. Kunjungan tatap muka/anjangsana pada petani/kelompoktani/massal adalah

metode penyuluhan pertanian langsung dengan mendatangi usahatani

petani/kelompoktani/masyarakat pertanian dalam membantu mengidentifikasi

dan atau pemecahan permasalahan usahatani serta sosialisasi program

pembangunan pertanian.

34. Uji coba lapang paket teknologi spesifikasi lokasi (kaji terap) adalah percobaan

teknologi pertanian yang dilaksanakan oleh petani, sebagai tindak lanjut dari

hasil pengkajian/pengujian teknologi anjuran, teknologi hasil galian petani atau

dari berbagai sumber teknologi lainnya, untuk mendapatkan teknologi yang

sesuai dengan kebutuhan/lokasi petani.

35. Pengkajian/pengujian teknologi anjuran adalah kegiatan pengembangan

penelitian sebelum dilakukan uji coba lapang (kaji terap) dari suatu teknologi

hasil penelitian yang dilakukan dilahan percontohan.

36. Demonstrasi cara adalah kegiatan untuk memperlihatkan secara nyata tentang

cara penerapan teknologi pertanian yang telah terbukti menguntungkan bagi

petani.

37. Demonstrasi hasil adalah kegiatan untuk memperlihatkan secara nyata tentang

hasil penerapan teknologi pertanian yang telah terbukti menguntungkan bagi

petani atau teknologi lainnya yang sudah spesifik lokasi.

38. Demonstrasi Plot yaitu demonstrasi yang dilaksanakan oleh perorangan.

39. Demonstrasi Farm yaitu demonstrasi yang dilaksanakan oleh kelompoktani.

40. Demonstrasi Area yaitu demonstrasi yang dilaksanakan oleh gabungan

kelompoktani.

41. Temu Lapang adalah kegiatan pertemuan antara peneliti, penyuluh dan para

petani untuk saling tukar menukar teknologi/informasi sehingga didapatkan

teknologi yang akan dikembangkan sesuai potensi wilayah.

5

42. Temu Teknis antar Wilayah/fungsi disebut juga Temu Tugas adalah kegiatan

pertemuan berkala antar Penyuluh Pertanian, atau antara Penyuluh Pertanian,

peneliti dan aparat pengaturan dan pelayanan untuk meningkatkan pelayanan

kepada petani dalam mengembangkan usahataninya.

43. Temu wicara adalah kegiatan pertemuan antara petani dengan pemerintah,

untuk bertukar informasi mengenai kebijaksanaan pemerintah dalam

pembangunan pertanian, serta partisipasi dan peran serta petani dalam

pembangunan pertanian.

44. Temu Karya adalah kegiatan pertemuan antar petani, untuk bertukar pikiran dan

pengalaman, saling belajar, saling mengajarkan keterampilan dan pengetahuan

untuk diterapkan oleh petani.

45. Temu Usaha adalah kegiatan pertemuan antar petani dengan pengusaha

dibidang pertanian dalam rangka promosi, transaksi, perluasan pasar dan

kemitraan.

46. Widya Wisata adalah kegiatan perjalanan bersama yang dilakukan oleh

kelompoktani dan penyuluh pertanian untuk belajar dengan melihat suatu

penerapan teknologi dalam keadaan yang sesungguhnya.

47. Widya karya/karya wisata adalah kegiatan perjalanan bersama yang dilakukan

oleh kelompoktani dan penyuluh pertanian untuk mempraktekkan hasil suatu

pengajaran atau melakukan suatu karya bermanfaat di tempat yang dituju.

48. Mimbar Sarasehan adalah kegiatan pertemuan sebagai forum konsultasi antara

kelompoktani dengan pihak pemerintah/Pemerintah Daerah yang

diselenggarakan secara periodik dan berkesinambungan untuk membicarakan,

memusyawarahkan dan menyepakati pemecahan berbagai permasalahan

pembangunan pertanian.

49. Kursus Tani adalah kegiatan proses belajar mengajar yang khusus

diperuntukkan bagi petani dan keluarganya, yang diselenggarakan secara

sistematis dan teratur, dan dalam jangka waktu tertentu.

50. Sekolah Lapangan adalah kegiatan proses belajar mengajar dengan partisipasi

aktif, mencari dan menemukan fakta sendiri, menganalisa dan mendiskusikan

diantara anggota kelompoktani sendiri, serta mengambil keputusan bersama

bagaimana tindakan selanjutnya, dengan prinsip belajar berdasarkan

pengalaman pada usahataninya yang dipandu oleh petani sendiri dan Penyuluh

Pertanian.

51. Kaji tindak adalah pengkajian masalah penyuluhan pertanian dengan melakukan

kegiatan identifikasi masalah, penyusunan rencana kegiatan, serta

melaksanakan tindak lanjut pemecahan masalahnya.

52. Perlombaan adalah kegiatan lomba usahatani untuk menumbuhkan persaingan

diantara para petani/kelompoktani dalam mengejar suatu prestasi yang

diinginkan.

53. Pengembangan Profesi adalah kegiatan pengembangan diri Penyuluh Pertanian

melalui pengamalan ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan peningkatan

mutu dan profesionalisme Penyuluh Pertanian agar menghasilkan karya yang

bermanfaat bagi pembangunan pertanian.

54. Pengembangan Swadaya dan Swakarya Petani adalah kegiatan yang dilakukan

Penyuluh Pertanian untuk menumbuhkan, mengarahkan dan mengembangkan

kemampuan para petani agar dapat memecahkan masalah yang mereka hadapi

secara mandiri.

6

55. Karya Tulis Ilmiah adalah tulisan pokok pikiran, pengembangan dan hasil

kajian/penelitian yang disusun oleh perorangan atau kelompok, yang membahas

suatu pokok bahasan ilmiah dengan menuangkan gagasan tertentu melalui

identifikasi, tinjauan pustaka, diskripsi, analisis permasalahan, kesimpulan dan

saran-saran pemecahannya.

56. Karya Tulis/Karya Ilmiah Hasil Pengkajian adalah tulisan hasil kajian/penelitian

atau pengembangannya yang disusun oleh perorangan atau kelompok, yang

membahas suatu pokok bahasan ilmiah dengan menuangkan gagasan tertentu

melalui identifikasi, tinjauan pustaka, diskripsi, analisis permasalahan,

kesimpulan dan saran-saran pemecahannya.

57. Karya Tulis/Karya Ilmiah Hasil Gagasan Sendiri adalah tulisan hasil pokok

pikiran, yang disusun oleh perorangan atau kelompok, yang membahas suatu

pokok bahasan ilmiah dengan menuangkan gagasan tertentu melalui identifikasi,

tinjauan pustaka, diskripsi, analisis permasalahan, kesimpulan dan saran-saran

pemecahannya.

58. Karya Tulis Ilmiah Populer adalah tulisan hasil penelitian/pengembangan/ pokok

yang ditulis secara padat, dengan kalimat yang mudah dimengerti, dipahami,

menarik untuk dibaca dan umumnya untuk konsumsi masyarakat umum.

59. ISSN singkatan dari

International Standart Serial Number (karya tulis ilmiah yang

di muat dalam terbitan yang berseri dan dipublikasikan dalam majalah, bulettin,

journal, tabloid, dll).

60. ISBN singkatan dari

International Standart Book Number (karya tulis ilmiah yang

di muat dalam bentuk buku tidak berseri dan dipublikasikan).

61. Tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri (makalah) adalah suatu karya

tulis yang disusun oleh seseorang atau kelompok yang membahas suatu pokok

persoalan berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-obyektif dibidang

pertanian.

62. Pertemuan Ilmiah adalah pertemuan yang dilaksanakan untuk membahas suatu

masalah yang didasarkan pada ilmu pengetahuan dan teknologi.

63. Saduran adalah naskah yang disusun berdasarkan tulisan orang lain yang telah

diubah dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berlaku tanpa

menghilangkan atau merubah gagasan asli.

64. Terjemahan adalah naskah yang berasal dari tulisan orang lain yang

dialihbahasakan.

65. Penulis Utama adalah seseorang yang memprakarsai penulisan, pemilik ide

tentang rancangan penulisan karya tulis ilmiah, pembuat pokok-pokok tulisan,

pembuat outline, penyusunan konsep serta pembuatan konsep akhir dari tulisan

tersebut.

66. Penulis Pembantu adalah seseorang yang memberikan bantuan kepada penulis

utama dalam hal mengumpulkan, mengolah dan menganalisa data, serta

menyempurnakan konsep.

67. Konsultasi di bidang pertanian adalah kegiatan memberikan saran, pendapat,

dan rekomendasi di bidang pertanian kepada institusi atau perorangan yang

hasilnya dalam bentuk tulisan bersifat konsep.

68. Seminar adalah pertemuan ilmiah untuk membahas/memecahkan masalah

tertentu di bidang pembangunan pertanian guna memperoleh kesimpulan.

69. Lokakarya adalah pertemuan untuk membahas masalah di bidang

pembangunan pertanian guna memperoleh hasil yang perlu ditindak lanjuti.

70. Tanda Jasa/Penghargaan adalah tanda kehormatan yang diberikan oleh

Pemerintah dan Pemerintah Daerah, Negara Asing atau organisasi ilmiah

nasional/regional/internasional yang diakui oleh masyarakat ilmiah.

71. Penyuluh Pertanian Teladan adalah tanda kehormatan yang diberikan kepada

penyuluh pertanian oleh pemerintah dan pemerintah daerah atas prestasi kerja

di bidang penyuluhan pertanian yang diperoleh melalui proses seleksi (penilaian)

dari setiap tingkatan pemerintahan yang diselenggarakan oleh lembaga

penyuluhan pertanian pemerintah.

72. Organisasi Profesi adalah organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya

didasarkan pada disiplin ilmu pengetahuan di bidang pertanian dan etika profesi

di bidang penyuluhan pertanian.

Bagaimana setelah menyimak dan mempelajari pengertian2 dalam juknis tersebut?. Semoga kita lebih produktif dan profesional dalam berkarier.

Sertifikasi Profesi Penyuluh Pertanian PNS tahun 2013

Sertifikasi Profesi Penyuluh Pertanian PNS tahun 2013

16 April, 2013 – 10:35 — admin

Dalam rangka mengimplementasikan Undang-Undang Nomor : 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, Menteri Pertanian memberikan mandat kepada Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) untuk melaksanakan sertifikasi profesi Penyuluh Pertanian PNS.

Sertifikasi profesi Penyuluh Pertanian PNS tahun 2013 dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Kuota Penyuluh Pertanian PNS calon peserta sertifikasi profesi secara nasional sebanyak 750 orang (lampiran 1). Untuk masing-masing provinsi dialokasikan secara proporsional sesuai dengan jumlah Penyuluh Pertanian yang ada, dan ditambah peserta cadangan sebesar 10% dari kuota yang telah ditetapkan (lampiran 2);

2. Nama-nama calon peserta sertifikasi profesi yang diusulkan oleh Provinsi paling lambat diterima LSPP-1 PP PNS satu bulan setelah surat ini diterima;

3. Sertifikasi profesi akan dilakukan dalam satu kesatuan proses, mulai dari Konsultasi Pra Asesmen (KPA) selama 3 hari dan Uji Kompetensi (Asesmen) selama 5 hari yang dilaksanakan di Tempat Uji Kompetensi (TUK) sesuai jadwal yang ditetapkan oleh LSPP-1 PP PNS (lampiran 3).

Sehubungan dengan hal tersebut, kami mengharapkan kerjasama Saudara untuk menyeleksi serta menetapkan Penyuluh Pertanian PNS yang akan mengikuti sertifikasi profesi dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Kepala Instansi/Kelembagaan yang menangani penyuluhan pertanian di tingkat provinsi, kabupaten/kota, dan kecamatan bersama-sama menyeleksi dan menetapkan Penyuluh Pertanian PNS calon peserta sertifikasi profesi sesuai dengan alokasi yang telah ditetapkan;

2. Persyaratan peserta sertifikasi profesi Penyuluh Pertanian PNS sesuai dengan ketentuan yang berlaku (lampiran 4);

3. Mengirim daftar nama calon peserta sertifikasi profesi (lampiran 5) berikut dokumen administrasinya (lampiran 4 butir 2.1e) kepada LSPP-1 PP PNS dengan alamat :

PUSAT PENDIDIKAN, STANDARDISASI DAN SERTIFIKASI PROFESI PERTANIAN,

BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN

GD. D LANTAI 5, JL. HARSONO RM. NO. 3

RAGUNAN – JAKARTA SELATAN

TELP / FAX: 021 – 782 7541

4. Penyuluh Pertanian yang memenuhi persyaratan administrasi, akan dipanggil untuk mengikuti sertifikasi profesi. Selanjutnya calon peserta wajib melengkapi Form.APL-01 dan Form. APL-02 (lampiran 6 dan 7) untuk dikirim ke TUK yang ditetapkan oleh LSPP-1 PP PNS. Sedangkan barang bukti kegiatan penyuluhan pertanian yang pernah dilakukan selama 2 (dua) tahun terakhir, dibawa oleh calon peserta pada saat KPA (lampiran 8);

5. Selama mengikuti sertifikasi profesi Penyuluh Pertanian PNS, calon peserta akan difasilitasi akomodasi, konsumsi dan bantuan biaya transport oleh Pusat Pendidikan, Standardisasi dan Sertifikasi Profesi Pertanian;

Atas perhatian dan kerjasama Saudara, kami ucapkan terima kasih

Sumber : http://cybex.deptan.go.id/kebijakan/sertifikasi-profesi-penyuluh-pertanian-pns-tahun-2013
Catatan : Lampiran dapat dilihat langsung dari sumber

Halaman Organik Vertikultur di BP2KP Kabupaten Serang

IMG_2726IMG_2724IMG_2721IMG_2720IMG_2718Pemandangan tidak biasa dapat kita saksikan di halaman kantor Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Serang dengan hadirnya tanaman sayur-sayuran yang ditata sedemikian rupa, dengan teknik Vertikultur, ditanam secara organik tentunya.
Vertikultur adalah menanam secara berundak, vertikal. Ini lebih menghemat tanah, area, dan juga artistik. Famorganik.com menjelaskan dalam websitenya, bahwa, bertanam secara organik merupakan suatu sistem & proses yang mengedepankan kesehatan tanah. Di tanah yang sehat akan tumbuh tanaman sehat. Agar tanah sehat, bahan berbahaya seperti pupuk kimia, pestisida kimia, aditif kimia tidak boleh digunakan. Bertanam secara organik utamanya untuk mendapatkan sayuran sehat dan subur alami. Halaman Organik membentuk keluarga sehat dan lingkungan sehat.Membuat sendiri halaman organik memberikan banyak keuntungan seperti :

MUDAH
• Tidak perlu pengetahuan khusus mengenai pertanian maupun organik. Layaknya belajar sesuatu yang baru, pengetahuan kita akan bertambah seiring berjalannya waktu.

SUSTAINED
• Di Halaman Organik hampir selalu ada orang, tidak perlu repot mencari tenaga atau menjadwal tenaga
• Panen seperlunya sehingga sayuran akan selalu tersedia seiring dengan tumbuhnya tanaman

MAKANAN SEHAT DAN SEGAR
• 100% kontrol residu di tangan kita karena kita sendiri yang memastikan bahwa halaman organik kita tidak menggunakan pupuk kimia (urea, NPK dsb) maupun pestisida kimia sama sekali. Penyiraman tidak menggunakan air selokan. Pencucian hasil panen selalu menggunakan air bersih. Menghindari pemakaian bahan beracun.
• Sayuran tersedia di rumah dalam keadaan segar dan tumbuh, tidak perlu disimpan di lemari es

EKONOMIS & PRAKTIS
• Menghemat budget dapur terlebih harga sayuran organik relatif masih mahal
• Menghemat waktu belanja sayuran organik di supermarket
• Dapat menentukan sendiri sayuran yang ditanam, yaitu sayuran yang memang disukai anggota keluarga. Termasuk jika ingin mencoba jenis sayuran baru.

ESTETIS
• Kombinasi sayuran, herbal dan tanaman hias memberikan keindahan tersendiri
• Tehnik rotasi tanaman membuat pemandangan halaman organik selalu terbarui dan segar

PEDULI LINGKUNGAN
• Halaman hijau tidaklah cukup jika masih menggunakan racun bagi tanah, tanaman dan manusia
• Menyehatkan tanah dan meningkatkan konservasi air tanah
• Memberikan lingkungan udara yang bersih dan sehat
• Mengurangi produksi sampah dengan memanfaatkan sampah organik dan non-organik untuk keperluan Halaman Organik.

BP2KP diharapkan dapat menjadi contoh bahkan pelopor dalam memasyarakatkan Halaman Organik Vertikultur, dengan ragam tanaman antara lain, kangkung, sawi, tomat, cabe, terong, pokcay, semua sayur-sayuran favorit keluarga. Punya halaman dan kegiatan berkebun mungkin salah satu impian. tapi, seringkali keinginan tersebut terhambat karena hidup di gang dengan lahan yang sempit. Kini ada solusi untuk mengatasi hambatan itu, namanya vertikultur.
Kita dapat belajar dan mengambil contoh di Halaman Organik Vertikultur BP2KP Kabupaten Serang, silakan.

Cara Membuat Pupuk Organik Cair (POC)

Oleh: Kang Maman Darga dan Retno Yuliastuti, Penyuluh

I.Bahan-bahan:

A. Limbah

1. Air cucian beras atau air kelapa 20-30 liter

2. Air cucian daging 5 liter

3. Air cucian ikan 5 liter

4. Isi usus ternak, 500 gram

5. Air urine ternak / manusia 5 liter

6. Coco dust (beras sabut kelapa 1 kg)

7. Kotoran ayam/kambing/dll 4-5 kg

8. Tanah dari bawah pohon bambu 2 kg

9. Dedak halus 2 kg

10. Isi tembolok ayam/unggas lainnya 0,5 kg B.

B. Bukan limbah · Alkohol 40% 500 cc · Cuka 500 cc · Gula merah 200 gram · MOL (micro organisme lokal) 500 cc · Daging buah gerenuk 2 kg · Parutan rebung/bambu muda 2 kg

C. Rempah-rempah

1. Jahe 100 gram

2. Laos 100 gram

3. Kencur 100 gram

4. Kunir 100 gram

5. Bangle 100 gram

6. Merica dan ketumbar masing-masing 1 sendok makan (halus)

7. Cengkeh/daunnya 100 gram

8. Sereh, daun salam dan honje masing-masing 50 gram

9. Bawang merah 100 gram

10. Bawang putih 100 gram

(Jangan terlalu kaku dengan dosis bahan-bahan di atas, sebab kekurangan atau kelebihan yang tidak mencolok dari salah satu bahan, tidak menimbulkan efek samping)

II. Alat-alat

1. Alat penghalus (Blender / lumpang)

2. Drum plastik ukuran 50 -100 liter

3. Alat pengaduk (kayu/bambu)

4. Ember, dll

III. Cara membuat

1. Haluskan semua bahan yang keras (rempah-rempah)

2. Larutkan gula merah ke dalam air dan masukkan MOL

3. Masukkan semua bahan ke dalam drum plastik

4. Aduk sampai rata lalu tutup dengan karung, simpan di tempat yang aman, tidak terkena matahari dan hujan secara langsung.

5. Setiap 24 jam tutup drum dibuka selama 3 menit (jangan diaduk) selama 15 hari

6. Mulai hari ke 16 setiap 24 jam larutan diaduk sampai rata setiap hari samap 30 hari

7. Setelah 30 hari PC organik sudah bisa dipakai (harus disaring dahulu) ampasnya adalah pupuk yang sangat baik

8. Bahan-bahan tadi merupakan bahan yang baik untuk POC

9. Jika digunakan sebaiknya disemprotkan ke bawah permukaan daun setiap seminggu sekali dengan konsentrasi 1 gelas POC + 10-15 liter air (jika kelebihanpun tidak ada efek samping)

10. Lebih baik lagi digunakan dengan cara di siramkan pada bagian bawah tanah sekitar perakaran setiap minggu sekali dengan konsentrasi 10-20 cc/liter air.

Hitung berapa biaya yang dibutuhkan termasuk tenaga kerja , dari semua itu akan diperoleh +/-  40 liter POC Berapa harga POC sintetik di toko ??,  kualitasnya belum tentu , mana yang lebih murah ?? Sebaiknya bandingkan juga hasilnya!!! Silahkan………………

Workshop Pengembangan e-Petani di Jogjakarta

Workshop Pengembangan ePetani diselenggarakan pada tanggal 4-6 Maret 2013 bertempat di Jogjakarta, Hotel RosIn, diikuti 13 Provinsi Kabupaten FEATI.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian menjadi pengarah kegiatan ini.Tujuan dilaksanakannya Workshop ini antara lain Mensosialisasikan paradigma baru sistem informasi pertanian berbasis website, memperkenalkan sistem pengoperasian e-Petani dan menjelaskan tugas pokok dan fungsi petugas Administrator kabupaten/kota dan kecamatan.

Materi yang diberikan oleh para Nara Sumber antara lain :

1. Kebijakan Penyuluhan Pertanian dalam Pengembangan Sistem Informasi Penyuluhan Pertanian melalui Website

2. Pengenalan e-Petani, Cyber Extension, Simpoktan dan Aplikasi Monev Penyuluhan

3. Tugas dan Tanggungjawab petugas Administrator (Admin)

4. Rencana Tindak Lanjut.

Output yang diharapkan dari Workshop ini adalah :

1.Tersosialisasinya sistem informasi pertanian berbasis website (e-Petani)

2. Dipahaminya sistem pengoperasian e-Petani oleh para calon Admin

3. Dipahaminya tugas dan tanggungjawab pengelola e-Petani di tingkat kabupaten/kota dan kecamatan.

Semoga Workshop Pengembangan e-Petani ini menjadi titik awal bagi tercapainya aksesibilitas terhadap informasi, teknologi, modal dan sarana produksi, pengembangan agribisnis dan kemitraan usaha yang lebih meningkat.

Retno Yuliastuti. Peserta Workshop Kab.Serang

Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah Bagi Pejabat Fungsional

Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah Bagi Pejabat Fungsional Rumpun Ilmu Hayat Lingkup Pertanian

Lampiran Peraturan Menteri Pertanian
Nomor : 34/Permentan/OT.140/6/2011
Tanggal : 20 Juni 2011
PEDOMAN PENYUSUNAN KARYA TULIS ILMIAH
BAGI PEJABAT FUNGSIONAL
RUMPUN ILMU HAYAT LINGKUP PERTANIAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam Pedoman jabatan fungsional yang ditetapkan melalui Peraturan
Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi, Karya Tulis Ilmiah (KTI) merupakan salah satu unsur
pengembangan profesi yang memperoleh apresiasi cukup tinggi.
Apresiasi tersebut ditunjukkan dengan adanya klausul bahwa kenaikan
pangkat pejabat fungsional jenjang Madya dan Utama wajib
mengumpulkan minimal 12 Angka Kredit yang berasal dari Karya Tulis
Ilmiah sebagai syarat untuk kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi
(Anonim, 2010). Tujuan dari ketentuan tersebut adalah untuk
mengembangkan pola pikir pejabat fungsional agar tidak terjebak dalam
rutinitas tugas pokok, dan senantiasa berinovasi serta terus berupaya
untuk mengembangkan keilmuannya sesuai bidang tugas masing-masing.
Kondisi yang terjadi saat ini, sub unsur pengembangan profesi khususnya
penulisan karya tulis ilmiah merupakan bidang yang belum banyak
diminati. Sebagian besar pejabat fungsional rumpun ilmu hayat lingkup
pertanian belum mampu memanfaatkan sebagai sarana pengumpulan
angka kredit. Hal ini disebabkan belum adanya pedoman penulisan karya
tulis ilmiah bagi pejabat fungsional rumpun ilmu hayat lingkup pertanian
yang ditetapkan oleh Kementerian Pertanian, sebagai acuan dalam
penulisan.
Mencermati pentingnya karya tulis ilmiah dalam pembinaan karir pejabat
fungsional, maka perlu disusun pedoman penulisan karya tulis ilmiah bagi
pejabat fungsional rumpun ilmu hayat lingkup pertanian. Melalui pedoman
tersebut, diharapkan pejabat fungsional akan termotivasi untuk
menghasilkan karya tulis ilmiah yang berkualitas dan sebagai panduan
bagi pejabat fungsional serta tim penilai dalam mengapresiasi ilmunya di
bidang tugas pokok masing-masing sesuai standar yang telah ditetapkan.
B. MAKSUD DAN TUJUAN
1. Maksud
Pedoman penyusunan karya tulis ilmiah dimaksudkan sebagai
panduan bagi pejabat fungsional rumpun ilmu hayat lingkup
pertanian dalam penyusunan karya tulis ilmiah sesuai standar,
dan sebagai pedoman bagi tim penilai, dalam memberikan
penilaian yang obyektif.
2. Tujuan
Tujuan Pedoman penyusunan karya tulis ilmiah agar para
pejabat fungsional rumpun ilmu hayat lingkup pertanian
termotivasi untuk menyusun karya tulis ilmiah, sesuai standar
yang ditetapkan.
C. PENGERTIAN
1. Jabatan Fungsional adalah kedudukan yang menunjukkan tugas,
tanggung jawab, wewenang dan hak seorang Pegawai Negeri
Sipil dalam satuan organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya
didasarkan pada keahlian dan/atau ketrampilan tertentu serta
bersifat mandiri.
2. Rumpun Ilmu Hayat adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai
Negeri Sipil yang tugasnya adalah melakukan kegiatan yang
berkaitan dengan penelitian, pengembangan teori dan metode
operasional, penerapan ilmu pengetahuan di bidang biologi,
mikrobiologi, botani, ilmu hewan, ekologi, anatomi, bakteorologi,
biokimia, fisiologi, citologi, genetika, agronomi, fatologi, atau
farmakologi, serta melaksanakan kegiatan teknis yang
berhubungan dengan pelaksanaan penelitian, penerapan konsep
prinsip dan metode operasional di bidang biologi, ilmu hewan,
agronomi, dan kehutanan.
3. Jabatan Fungsional Rumpun Ilmu Hayat Lingkup Pertanian yang
selanjutnya disingkat RIHP adalah jabatan fungsional dalam
rumpun ilmu hayat, dimana Kementerian Pertanian ditetapkan
sebagai instansi pembina.
4. Karya Tulis Ilmiah yang selanjutnya disingkat KTI adalah tulisan
hasil pokok pikiran, pengembangan dan hasil kajian/penelitian
yang disusun oleh perorangan atau kelompok, yang membahas
suatu pokok bahasan ilmiah dengan menuangkan gagasan
tertentu melalui identifikasi, tinjauan pustaka, diskripsi, analisis
permasalahan, kesimpulan dan saran-saran pemecahannya.
5. Penelitian atau pengkajian adalah proses kegiatan yang dilakukan
secara sistematis mengikuti kaidah, prosedur dan metode ilmiah
untuk memperoleh data dan atau informasi (keterangan) tertentu
yang diperlukan dalam penguraian, pembahasan dan pembuktian
asumsi atau pengujian hipotesis, serta menarik kesimpulan bagi
kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di
bidang tertentu atau penerapannya. (Sumber : Pedoman
Penyusunan KTI Widyaiswara, 2008)
6. Proceeding adalah kumpulan dari beberapa makalah yang
dipresentasikan dalam pertemuan ilmiah dan dibukukan. (Sumber:
gagasan tim)
7. Makalah adalah sebuah karya akademis yang umumnya
diterbitkan dalam suatu jurnal ilmiah atau disampaikan dalam
forum ilmiah, dapat berisi hasil penelitian orisinil atau berupa
telaah dari hasil-hasil yang telah ada sebelumnya.
8. Naskah adalah karangan seseorang yang belum diterbitkan.
9. Survei adalah pemeriksaan atau penelitian secara komprehensif.
Dalam penelitian kuantitatif, survei lebih merupakan pertanyaan
tertutup, sementara dalam penelitian kualitatif berupa wawancara
mendalam dengan pertanyaan terbuka.(Sumber:
10. Evaluasi adalah proses sistematis untuk menentukan nilai
sesuatu(tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk kerja, proses, orang,
obyek, dll) berdasarkan kriteria tertentu melalui penilaian.
11. Abstrak adalah deskripsi singkat atau kondensasi suatu
karangan yang memuat tema, maksud dan kesimpulan artikel
asli. (Sumber : Brotowidjoyo, Penulisan Karangan Ilmiah, 2010)
12. Pertemuan Ilmiah adalah forum/wadah kegiatan berupa diskusi
panel, seminar, lokakarya, konferensi, atau pertemuan
sejenisnya yang menyangkut persoalan ilmiah yang
diselenggarakan oleh institusi pemerintah atau non pemerintah.
(Sumber : Pedoman Penyusunan KTI Widyaiswara, 2008)
13. Metodologi adalah ilmu-ilmu yang digunakan untuk memperoleh
kebenaran menggunakan penelusuran dengan tata cara tertentu
dalam menemukan kebenaran, tergantung dari realitas yang
14. Tinjauan merupakan pandangan/pendapat/apresiasi/pantauan
(sesudah menyelidiki, mempelajari, membaca, dsb) terhadap
suatu masalah.
BAB II
JENIS DAN BENTUK KARYA TULIS ILMIAH
A.
Jenis Karya Tulis Ilmiah
Terdapat beberapa jenis karya tulis ilmiah, namun mengacu pada
Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi tentang jabatan fungsional RIHP dan angka kreditnya, pedoman
ini mengkategorikan menjadi dua jenis, yaitu :
1. Hasil penelitian/pengkajian/survei/evaluasi;
2. Makalah hasil tinjauan/telaahan/ulasan.
B.
Bentuk Karya Tulis Ilmiah
Karya tulis ilmiah dapat berbentuk buku dan non buku. Jumlah minimal
halaman dalam pedoman ini dimaksudkan hanya untuk batang tubuh
karya tulis ilmiah (tidak termasuk halaman judul, kata pengantar, daftar
isi/tabel/gambar), dengan persyaratan sebagai berikut:
1.
Karya tulis ilmiah dalam bentuk buku
Karya tulis ilmiah dalam bentuk buku terdiri atas karya tulis ilmiah yang
dipublikasikan dan karya tulis ilmiah yang tidak dipublikasikan.
a. Karya tulis ilmiah dalam bentuk buku dipublikasikan harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
1) Diterbitkan oleh suatu lembaga/organisasi profesi atau penerbit
yang berbadan hukum dan diedarkan secara
internasional/nasional;
2) Memiliki
International Standard of Book Numbers (ISBN).
b. Karya tulis ilmiah dalam bentuk buku tidak dipublikasikan harus
memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1) Didokumentasikan pada perpustakaan instansi/lembaga, yang
dibuktikan dengan nomor katalog buku perpustakaan dan surat
keterangan dari perpustakaan instansi.
2) Jumlah minimal 20 halaman atau minimal 5000 kata dengan spasi
1.5, karakter huruf arial, dan ukuran huruf 12.
2.
Karya tulis ilmiah dalam bentuk non buku
Karya tulis ilmiah dalam bentuk non buku terdiri atas karya tulis ilmiah
yang dipublikasikan dan karya tulis ilmiah yang tidak dipublikasikan.
a. Karya tulis ilmiah dalam bentuk non buku yang dipublikasikan, terdiri
atas:
Karya tulis ilmiah dalam bentuk non buku yang dipublikasikan dapat
berbentuk jurnal/majalah,
proceeding dan internet.
1) Jurnal dan majalah, harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a) diterbitkan oleh suatu lembaga/organisasi ilmiah/profesi atau
penerbit berbadan hukum, baik nasional maupun internasional;
b) memiliki
International Standard of Serial Numbers (ISSN).
2)
Proceeding yang diterbitkan oleh panitia/penyelenggara forum ilmiah
tertentu baik di dalam maupun luar negeri.
3)
Internet yang diterbitkan melalui website lembaga/organisasi ilmiah.
b. Karya tulis ilmiah dalam bentuk non buku yang tidak dipublikasikan
Karya tulis ilmiah dalam bentuk non buku yang tidak dipublikasikan,
dapat berbentuk naskah ataupun makalah.
1) Naskah sebagai bahan/referensi di perpustakaan instansi/lembaga,
dengan kriteria:
a) Didokumentasi pada perpustakaan instansi/ lembaga, yang
dibuktikan dengan nomor katalog buku perpustakaan dan surat
keterangan dari perpustakaan instansi.
b) Jumlah minimal 5 halaman atau minimal 1500 kata, ukuran kertas
A4 dengan spasi 1.5, karakter huruf arial, dengan ukuran huruf
12.
2) Makalah dalam pertemuan ilmiah, dengan kriteria:
a) Makalah yang dijilid dalam bentuk “buku”
(1) Didokumentasi pada perpustakaan instansi/lembaga, yang
dibuktikan dengan nomor katalog buku perpustakaan dan
surat keterangan dari perpustakaan instansi.
(2) Melampirkan sertifikat/surat keterangan dari instansi/lembaga
penyelenggara sebagai penyaji dalam pertemuan ilmiah.
(3) Jumlah minimal 10 halaman atau minimal 2500 kata, spasi
1.5, karakter huruf arial, dengan ukuran huruf 12.
b) Majalah
(1) Didokumentasi pada perpustakaan instansi/ lembaga, yang
dibuktikan dengan nomor katalog buku perpustakaan dan
surat keterangan dari perpustakaan instansi.
(2) Melampirkan sertifikat/surat keterangan dari instansi/lembaga
penyelenggara sebagai penyaji dalam pertemuan ilmiah.
(3) Jumlah minimal 5 halaman atau minimal 1500 kata, spasi 1.5,
karakter huruf arial, dengan ukuran huruf 12.
BAB III
KAIDAH, TATA CARA, SISTEMATIKA PENULISAN, DAN FORMAT
PENYAJIAN KARYA TULIS ILMIAH
Pada umumnya hal-hal yang berkenaan dengan prosedur, metoda (tata
cara) dan sistematika penyusunan karya tulis ilmiah ditetapkan oleh
lembaga penyelenggara atau pengelola kegiatan tersebut. Namun pada
dasarnya terdapat dua aturan/ketentuan yang wajib dipatuhi dalam
penyusunan karya tulis ilmiah, yaitu ketentuan umum dan khusus.
Ketentuan umum adalah kaidah-kaidah yang berlaku dan digunakan
secara umum di kalangan komunitas ilmiah dalam penyusunan karya tulis
ilmiah. Ketentuan khusus adalah kaidah-kaidah yang dibuat atau
ditetapkan oleh dan hanya berlaku pada suatu instansi atau lembaga
tertentu. Dalam kaitan dengan karya tulis ilmiah yang disusun oleh pejabat
fungsional RIHP, kaidah-kaidah yang wajib dipenuhi dalam menyusun
karya tulis ilmiah ditetapkan oleh Kementerian Pertanian selaku instansi
pembina jabatan fungsional RIHP sebagaimana termuat dalam Pedoman
ini.
A. Kaidah Penulisan
Dalam penyusunan KTI harus memperhatikan kaidah sebagai berikut:
1. Asli, yaitu karya tulis ilmiah merupakan hasil pemikiran penulis sendiri
bukan plagiasi, jiplakan atau disusun dengan tidak jujur.
2. Manfaat, yaitu karya tulis ilmiah memiliki urgensi karena diperlukan,
dan mempunyai nilai manfaat pada masing-masing bidang sesuai jenis
jabatan fungsionalnya.
3. Substansi, yaitu materi karya tulis ilmiah yang disajikan harus
merupakan bagian dari tugas utama masing-masing pejabat fungsional
RIHP.
4. llmiah, yaitu karya tulis ilmiah didasari oleh kaidah keilmuan yang
memiliki struktur logika dan terbuka terhadap pengujian kebenaran.
5. Konsisten, yaitu karya tulis ilmiah relevan dengan lingkup tugas utama
masing-masing pejabat fungsional RIHP.
6. Objektif, yaitu penulis tidak boleh:
a. mengganti fakta dengan dugaan;
b. menyembunyikan kebenaran dengan menggunakan makna ganda
(ambiguitas);
c. berbohong dengan mengacu data statistik;
d. memasukkan dugaan pribadi dalam karya tulisnya.
B. Tata Cara Penulisan
Penulisan karya tulis ilmiah bagi pejabat fungsional RIHP pada dasarnya
memuat ketentuan atau tata cara penulisan yang berlaku umum dalam
penyusunan karya ilmiah. Agar lebih mudah dipahami, maka penulisan
karya tulis ilmiah harus memperhatikan tata cara penulisan, sebagai
berikut:
a. Dalam bahasa Indonesia:
Menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
1) Untuk kata serapan bahasa asing, dipergunakan cara penulisan kata
serapan yang telah dibakukan.
2) Penggunaan peristilahan di bidang komputer mengikuti penggunaan
istilah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
b. Dalam bahasa Asing
Menggunakan kaidah tata bahasa (gramatikal) dalam bahasa asing
yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan yang berlaku umum.
C.
Sistematika Penulisan
Karya tulis ilmiah dibangun oleh kesatuan gagasan yang dapat
diidentifikasi berdasarkan pemaknaan tautan antar gagasan yang tertuang
dalam setiap bagian karangan. Sistematika atau kerangka karya tulis
ilmiah umumnya terdiri atas 3 (tiga) bagian utama yaitu bagian awal atau
pembuka, bagian batang tubuh/isi tulisan, dan bagian akhir.
1. Bagian awal atau pembuka menyajikan latar belakang masalah
penulisan atau kajian, diikuti bagian permasalahan atau rumusan
masalah, dan menyajikan maksud dan tujuan penulisan atau kajian.
2. Bagian batang tubuh tulisan merupakan bagian pembahasan tentang
pokok tulisan dan permasalahannya dengan sistematika yang
didasarkan pada kompleksitas suatu masalah yang disajikan.
3. Bagian akhir merupakan bagian simpulan yang harus mencakup
gagasan utama yang dituangkan dalam isi tulisan. Bagian akhir atau
simpulan merupakan jawaban atas masalah yang disertai saran atau
rekomendasi dari hasil pembahasan. Ketiga bagian tersebut
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam penulisan karya tulis
ilmiah.
Sistematika atau kerangka karya tulis ilmiah terdiri atas judul, nama dan
alamat penulis, abstrak, pendahuluan, metodologi, hasil dan pembahasan,
kesimpulan, saran, ucapan terima kasih dan daftar pustaka.
1.
Judul
Judul karya tulis ilmiah harus singkat, tepat, tidak multi tafsir, dan
sesuai dengan masalah yang ditulis. Judul sebaiknya tidak lebih dari 12
(dua belas) kata, diketik dengan huruf kapital dicetak tebal (tidak
termasuk kata sambung dan kata depan) yang mengandung beberapa
kata kunci untuk memudahkan pemayaran (penelusuran) pustaka.
2.
Nama dan Alamat Penulis
Nama penulis diketik lengkap di bawah judul beserta nama dan alamat
instansi. Bila nama dan alamat instansi lebih dari satu diberi tanda
asteriks
*) dan diikuti alamat penulis sekarang. Jika penulis lebih dari 1
(satu) orang kata penghubung digunakan kata ”dan”.
3.
Abstrak
Bagian abstrak menggungkapkan hasil penelitian atau kajian secara
singkat dan pernyataan apa yang telah disimpulkan sehingga pembaca
akan dapat memahami inti sari dari tulisan hanya dengan membaca
bagian ini.
Abstrak merupakan ulasan singkat/pernyataan apa yang telah
dilakukan, dihasilkan, dan disimpulkan, yang harus ditulis dalam
bahasa indonesia atau bahasa inggris, selain bahasa Indonesia ditulis
huruf miring. Abstrak disusun dalam 1 (satu) paragraf, panjangnya tidak
lebih dari 1 (satu) halaman, dan maksimal 150 kata, dengan huruf
arial
ukuran 12 serta diketik dengan 1 (satu) spasi. Kata ”Abstrak” ditulis
dalam huruf kapital dan diletakkan ditengah. Abstrak dilengkapi dengan
kata kunci yang terdiri atas 2 (dua) sampai dengan 5 (lima) kata, ditulis
miring.
Dalam menyusun abstrak, tempatkan diri Anda sebagai pembaca.
Mereka ingin mengetahui dengan cepat garis besar pekerjaan Anda.
Jika sesudah membaca bagian ini pembaca ingin mengetahui perincian
lain, mereka akan membaca karya Anda selengkapnya. Penyajian
abstrak selalu informatif dan faktual. Untuk meningkatkan informasi
yang diberikan, tonjolkan temuan dan keterangan lain yang baru bagi
ilmu pengetahuan dan suguhkan angka-angka. Abstrak hanya memuat
teks, tidak ada pengacuan pada pustaka, gambar, dan tabel.
4.
Pendahuluan
Bagian pendahuluan merupakan penjelasan secara umum, ringkas,
dan padat meliputi latar belakang, tujuan dan manfaat, dan hipotesis
(jika ada). Bagian ini mengungkapkan informasi dan deskripsi tentang
permasalahan penelitian atau kajian yang biasanya terdiri atas latar
belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat, asumsi atau
hipotesis dan kerangka pikir.
Latar belakang masalah dapat bersumberkan hasil penelitian terdahulu,
penemuan, fakta sehari-hari, teori atau hipotesis, status ilmiah terkini
(
state of the art). Dengan menguraikan rumusan masalah dan tujuan
penelitian, penulis hendaknya dapat mengemukakan hipotesisnya
dalam pendahuluan ini.
Latar belakang merupakan argumentasi yang menunjukan
permasalahan serta situasi yang melatarbelakangi penulisan. Penyajian
bagian latar belakang dilakukan dengan cara mengkonfrontasi antara
teori atau konsep dengan hasil yang diperoleh. Bagian rumusan
masalah merupakan bagian yang menjelaskan permasalahan yang
akan dikaji atau diteliti. Rumusan ini biasanya disajikan dalam bentuk
kalimat pertanyaan. Pertanyaan dalam rumusan masalah harus dapat
terukur oleh aktivitas kajian atau penelitian yang dilakukan.
Tujuan dan manfaat harus terkait dengan masalah yang akan ditulis,
dan merujuk pada hasil yang akan dicapai, serta mengungkapkan
secara spesifik manfaat yang akan diperoleh. Tujuan diarahkan pada
pemecahan masalah-masalah yang menjadi permasalahan. Manfaat
dibagi menjadi manfaat teoritis dan manfaat praktis. Manfaat teoritis
diarahkan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, sedangkan
manfaat praktis dimaksudkan untuk memecahkan masalah yang
dihadapi.
Bagian hipotesis dalam penulisan karya tulis ilmiah bergantung pada
pendekatan yang digunakan. Hipotesis diungkapkan secara lugas,
singkat, dan padat dengan pernyataan mendorong pembuktian dalam
pengolahan data. Pembuktian hipotesis menjadi dasar bagi
pembahasan yang menghubungkan antara variabel penelitian atau
kajian dengan indikator dari setiap variabel tersebut.
5.
Landasan Teori / Tinjauan Pustaka
Landasan teori merupakan deskripsi lengkap teori-teori yang digunakan
dan dirangkai sebagai argumen keilmuan yang dilandasi dengan
serangkaian teori. Landasan teori yang digunakan adalah untuk
menjawab dan membahas permasalahan.
Tinjauan Pustaka merupakan dasar pijak penelitian atau kajian secara
teoritis. Pijakan ini berdasarkan referensi atau temuan penelitian atau
kajian lain sejenis yang akan digunakan untuk membahas
permasalahan yang akan diteliti atau dikaji. Kerangka pikir merupakan
dasar teoritis yang menjadi dasar berfikir dari penulis dalam melakukan
penelitian atau kajian serta disajikan dalam bentuk deskripsi setiap teori
yang digunakan.
6.
Metodologi
Metodologi adalah kerangka pendekatan studi, yang digunakan
sebagai analisis suatu teori, metode percobaan, atau kombinasi
keduanya. Metodologi yang digunakan diuraikan secara terperinci
(perubahan, model yang digunakan, rancangan karya tulis ilmiah,
teknik pengumpulan dan analisis data, serta cara penafsiran). Aspekaspek
ini tidak seluruhnya ada pada bagian metode, tetapi bergantung
pada jenis dan pendekatan penelitian atau kajian yang dilakukan.
7.
Hasil dan pembahasan
Hasil dan pembahasan memaparkan dan menganalisis data yang
mencakup uraian dengan mengungkapkan, menjelaskan, membahas,
dan menganalisis hasil tulisan yang mengacu pada tujuan penulisan.
Hasil yang diperoleh harus memperhatikan dan menyesuaikan dengan
masalah, serta disajikan secara sistematis, dengan menampilkan tabel,
gambar, grafik, atau data dukung lainnya. Tabel dan gambar harus
dilengkapi nomor urut menggunakan angka, dan bila diperlukan disertai
keterangan tambahan, seperti acuan dan arti singkatan. Pembahasan
mengemukakan gagasan dan argumentasi secara bebas, singkat dan
logis. Pembahasan diberikan berdasarkan hasil, teori, dan hipotesis,
disampaikan secara jelas, padat, dan rasional.
Hasil penelitian, survei atau simulasi/pemodelan/rancang bangun
beserta analisis dan pembahasannya disajikan secara sistematis,
bersama-sama atau secara terpisah berupa uraian, tabel, atau gambar.
Data yang dilaporkan sudah harus berupa data yang telah diolah,
bukan data mentah. Untuk karya tulis hasil kajian dan hasil bahasan
teoritis, informasi pustaka yang akan dipermasalahkan dan
pembahasannya dapat diuraikan secara bersama-sama atau secara
terpisah yang disajikan secara sistematis, rasional, dan lugas.
8.
Simpulan
Simpulan merupakan hasil generalisasi atau keterkaitan dengan
masalah, yang memuat ringkasan hasil dan jawaban atas tujuan, serta
konsisten dengan masalah dan tujuan. Pada bagian simpulan
diungkapkan makna yang merupakan deskripsi jawaban dari rumusan
masalah.
Simpulan tidak hanya mengemukakan fakta, tetapi juga harus
menjawab hipotesis yang disebutkan pada bab pendahuluan serta
menjelaskan pencapaian tujuan penelitian yang telah dilakukan.
Simpulan ditulis secara ringkas dan padat.
9.
Saran
Saran merupakan rekomendasi dari hasil penelitian atau kajian dan
harus berdasarkan simpulan, sehingga bukan merupakan pikiran atau
pendapat penulis. Saran merupakan tindak lanjut dari penyelesaian
suatu permasalahan yang disajikan berdasarkan hasil penelitian atau
kajian.
Uraian saran dapat mengemukakan kelemahan atau kekekurangan
pelaksanaan penelitian/pengkajian/survei/evaluasi/telaahan, serta halhal
yang perlu disempurnakan pada tahap berikutnya.
10.
Ucapan terima kasih (bila diperlukan)
Ucapan terima kasih ditujukan kepada para pihak yang telah
membantu pelaksanaan penelitian / pengkajian / survei / evaluasi /
telaahan.
11.
Daftar Pustaka
Daftar pustaka berupa daftar dari semua artikel jurnal dan pustaka lain
yang diacu secara langsung di dalam karya tulis ilmiah.Teknik
penulisan dan pengacuan dijelaskan secara terperinci pada daftar
pustaka.
Pencantuman pustaka selain merupakan suatu bentuk penghargaan
dan pengakuan atas karya atau pendapat orang lain juga sebagai
sopan santun professional. Pencantuman pendapat orang lain tanpa
merujuk ke sumbernya akan mengesankan plagiarisme. Komunikasi
pribadi tidak termasuk dalam pustaka yang mudah diperoleh. Bila
diperlukan, nyatakan hal ini dalam teks atau catatan kaki.
D.
Format Penyajian Karya Tulis Ilmiah
Dilihat dari sudut sistematika penulisan, setiap bentuk karya tulis ilmiah
pejabat fungsional RIHP mempunyai bagian dan tata urutan penyusunan
dalam format penyajian sebagai berikut:
1. Bentuk Buku dan Non Buku yang dipublikasikan
Format penyajian buku dan non buku yang dipublikasikan tidak terikat
pada sistematika penulisan hasil laporan penelitian/pengkajian. Hal ini
ditentukan oleh kebutuhan, antara lain media atau forum dimana karya
tulis tersebut akan dimuat, namun proses penyusunannya harus tetap
melalui proses identifikasi, deskripsi, analisis, dan memberikan konklusi
ataupun rekomendasi.
2. Bentuk Buku dan Non Buku yang tidak dipublikasikan
Untuk dapat dinilai sebagai karya tulis ilmiah buku dan non buku yang
tidak dipublikasikan harus memiliki kriteria sebagai berikut:
a. Bagian awal memuat:
1) Halaman judul;
2) Abstrak;
3) Kata Pengantar;
4) Daftar isi;
5) Daftar tabel (jika ada);
6) Daftar gambar/grafik (jika ada).
7) Daftar Lampiran (jika ada).
b. Bagian batang tubuh memuat:
1) Bagian Pendahuluan
Bagian pendahuluan terdisi atas latar belakang, tujuan, manfaat,
dan hipotesis (bila ada). Proporsi bagian pendahuluan ini ± 15%
dari isi karya tulis ilmiah
2) Bagian Isi
Bagian isi terdiri atas landasan teori / tinjauan pustaka,
metodologi, serta hasil dan pembahasan. Proporsi bagian ini ±
70% dari isi karya tulis ilmiah.
3) Bagian Penutup
Bagian ini terdiri atas simpulan, saran dan daftar pustaka.
Proporsi bagian ini ± 15% dari isi karya tulis ilmiah.
BAB IV
PENILAIAN KARYA TULIS ILMIAH
Dalam penulisan karya tulis ilmiah, hal pokok yang perlu diingat adalah
adanya konsistensi dan pertautan yang erat antara permasalahan yang
disampaikan, tujuan dan simpulan.
Penilaian karya tulis ilmiah meliputi 2 aspek, yaitu: sistematika penulisan,
dan isi tulisan. Teknis penilaian menggunakan skala 100 dan masingmasing
item yang dinilai memiliki bobot, yaitu sistematika penulisan bobot
30, dan isi tulisan bobot 70. Secara lengkap penilaian pada karya tulis
ilmiah sebagai berikut:
1. Sistematika penulisan (bobot 30) meliputi:
a. Kesinambungan antar alinea, antar bab dalam naskah, ada tidaknya
pengulangan yang tidak perlu, bobot 15
b. Susunan kalimat/penggunaan bahasa, bobot 10
c. Cara penulisan kepustakaan/rujukan, bobot 5
2. Isi tulisan (bobot 70) meliputi:
a. Kejelasan rumusan, bobot 10
b. Ketajaman analisis/pembahasan, bobot 25
c. Kesesuaian pemecahan masalah, bobot 25
d. Saran bersifat operasional sesuai dengan isi tulisan, bobot 10.
BAB V
PENUTUP
1. Pedoman Penyusunan KTI merupakan penjabaran dari sub unsur
pengembangan profesi yang terdapat dalam Peraturan Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi tentang
Jabatan Fungsional RIHP dan Angka Kreditnya.
2. Pedoman Penyusunan KTI merupakan acuan bagi Pejabat
Fungsional RIHP dan Tim Penilai Jabatan Fungsional RIHP dalam
melaksanakan tugas yang berkaitan dengan KTI.
3. Hal-hal lain yang bersifat spesifik dalam penyusunan KTI untuk
setiap jabatan fungsional RIHP akan diatur lebih lanjut dalam
Petunjuk Teknis.
4. Pedoman Penyusunan KTI bersifat dinamis dan akan ditinjau
kembali sesuai dengan perkembangan pengetahuan, teknologi dan
perubahan peraturan perundang-undangan yang mengatur
Jabatan Fungsional RIHP.
MENTERI PERTANIAN,
ttd
SUSWONO
Lampiran Peraturan Menteri Pertanian
Nomor : 34/Permentan/OT.140/6/2011
Tanggal : 20 Juni 2011
PERNYATAAN PENGESAHAN KARYA TULIS ILMIAH PEJABAT
FUNGSIONAL RUMPUN ILMU HAYAT LINGKUP PERTANIAN
Yang bertanda tangan dibawah ini
Nama :
NIP :
Jabatan :
Instansi :
Menyatakan bahwa Karya Tulis Ilmiah berjudul “…” benar-benar di susun
oleh Pejabat Fungsional di bawah ini :
Nama :
NIP :
Pangkat\Gol.Ruang\TMT :
Jabatan :
Unit Kerja :
Demikian pernyataan ini kami buat untuk digunakan sebagaimana
mestinya dengan penuh tanggung jawab
Tempat, (tgl, bulan, tahun)
Pejabat Fungsional